Presiden RI Dialog dengan Masyarakat Indonesia di Brunei Darusalam

Presiden RI. Transkrip Dialog Presiden RI dengan masyarakat Indonesia pada acara pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam, 28 Februari 2006.

Moderator
Yang terhormat Bapak Presiden, terima kasih atas wejangan maupun petuah-petuah kepada masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam. Atas nama masyarakat, saya mengucapkan terima kasih. Itulah artinya untuk tanya jawab, saya kira waktu kita hanya 20 menit. Mohon pertanyaan, satu pertanyaan saja, identifikasi nama dan berasal darimana. Terima kasih

Sdr. Iwan Rahman, Brunei Shell
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Nama saya Iwan Rahman bekerja di Brunei Shell.
Yang terhormat dan yang mulia, Bapak Presiden Indonesia, Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono.
Mungkin karena waktu yang sangat singkat, sebenarnya kami sudah mengumpulkan berbagai macam pertanyaan, Pak, cuma dalam kesempatan ini kami akan melaporkan kepada bapak bahwa saat ini jumlah ahli perminyakan yang bekerja di Brunei berjumlah kurang lebih 52 orang. Semuanya mereka adalah mantan profesional perminyakan yang ada di Indonesia, ini dari Pertamina, Caltex, Conoco, Mobile Oil, dan lain-lain. Dan larilah ke negeri Jiran ini, dan mereka tersebar di sejumlah perusahaan minyak asing di sini. Dan Alhamdullilah bekerjanya cukup baik, ada yang Shell, Schlumberger, di Jekel, di Total, dan lain sebagainya.

Kami laporkan pula, Pak, Alhamdullilah kami semua dalam kehidupan yang baik, aman dan sedikit berkecukupan. Memang kami niat pergi ke negeri Jiran ini hijrah, mencari sesuap nasi dan segenggam berlian karena memang kami di bayar dalam dolar, Alhamdullilah.

Kemudian satu pertanyaan, Pak, yang kami sampaikan, yang telah kami rangkum dari kami membuat suatu diskusi internal diantara kelompok kami, masalah tenaga kerja dan lain-lain. Saya kira sudah banyak yang membahas, kami hanya ingin bertanya bahwa tahun-tahun belakangan ini, ahli perminyakan Indonesia banyak yang hijrah ke negara-negara lain, termasuk ke negara-negara Timur Tengah, Negeri Jiran, Singapur, Malaysia, Brunei dan lain-lain, bahkan keliling Eropa dan Amerika. Dan semuanya kami rasa mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya. Dan di satu pihak kami tidak mengetahui weakness atau kelemahan apa potential resources ini yang sudah keluar dari negara kita. Sehingga pertanyaannya adalah kira-kira strategi pemerintah yang bagaimana, untuk mengiming-imingi para ahli perminyakan yang ada di luar untuk kembali ke Indonesia pulang, membangun atau di dalam negeri sendiri sudah membuat suatu development untuk mem-back-up teknologi perminyakan kita, sehingga negara keadaan kita yang sekarang ini sudah made importir, bisa menjadi surplus, demikian.
Wabillahhitaufiq Walhidayah Wssalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sdr. Sumantri, Sheldom Utama Hotel
Saya tidak punya pertanyaan, Pak. Alhamdullilah kami kerasan di sini, saya malah mau menyumbangkan ide, dua ide, sudah kami pas di sini, sudah kami ketik jadi saya akan sampaikan ini ke Bapak.

Sdr. Rusli Muhammad Ali
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Bapak Presiden beserta ibu dan rombongan, Bapak Menteri-menteri Yang terhormat,
Selamat datang di Brunei,
Saya rasa suasananya semakin panas sama dengan Jakarta, tapi Bapak saya harap dengan adanya pertemuan ini, semuanya akan lebih baik lagi, semoga dengan adanya keakraban ini solusi akan akan bertambah, Amin Ya Rabbal Alamin.

Tidak ada pertanyaan, namun usulan, saya spontan saja, Pak, ada usulan, tadi begitu masuk Pak Hassan Wirajuda, tengok-tengok ke atas, nampaknya Pak Hassan begitu antusias dengan ruangan yang sudah ada ini. Kami mengusulkan pak, tadi sudah dikatakan ada 36 ribu tenaga kerja Indonesia yanga ada di Brunei Darussalam, artinya 11 % lebih dari penduduk Brunei Darussalam yang ada. Apa salahnya kalau kita mencukupi atau keadaan kita baik dan bagus. Kita buatkan sarana Wisma Indonesia yang lebih agak besar lagi, karena apa Pak? Saya sudah 10 tahun di Brunei, tidak datang, ini mungkin ini adalah adat, terutama hari-hari perayaan hari raya, bulan puasa, hari upacara kenegeraan 17-Agustus, dan tamu-tamu seperti Bapak Presiden yang datang ini, inilah ruangan kita. Yang hadir cuma beberapa orang yang di dalam lainnya masyarakat Indonesia banyak di luar. Itu yang mengundang pihak kita masih banyak yang menunggu di televisi, itupun, kalau majikan mereka membuka televisi kalau tidak pulang malam. Mungkin dia tidak kenal siapa Pak Bambang, siapa Pak Hassan, kalau tidak dia duduk kembali.

Demikian itulah, saya mengenalkan diri, tadi lupa, saya Rusli Muhammad Ali, kelahiran Palembang 56 tahun yang lalu. Sekarang di Brunai Darussalam, bekerja sudah 10 tahun di kementerian UPHK di bidang perawat-perawat. Di Brunei ada 4 orang dokter Indonesia, saya adalah salah satunya dan ada 9 orang perawat, 1 bidan, kasarnya, Pak, beberapa waktu lagi kontrak kami akan diambil diputuskan, karena apa, hubungan tenaga kerja Indonesia terutama dibidang kesehatan, mereka sudah agak mencukupi. Satu kendala usulan sebab kiranya akan pertemuan kembali, Pak, sehubungan dengan tenaga kerja Indonesia agar yang ada ini jangan diputuskan dulu.
Terima kasih.
Wabillahhitaufiq Walhidayah Wssalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sdr. Agus Jamil, TKI
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Mohon salam hormat nama saya, Agus Jamil, saya 8 tahun di sini, Pak sebagai TKI. Kebetulan saya diperminyakan juga sama dengan Pak Iwan, tetapi saya di kantor Perdana menteri di bagian Unit Petroleum jadi otoritas perminyakan di Brunai Darussalam, saya sedikit banyak, saya sebelumnya bekerja di Caltex, tapi di Indonesia.

Saya ada dua pertanyaan, saya akan menyerahkan seperti Kakang Sumantri, tadi. Jadi yang satu, tentang TKI, Pak. TKI itu kita sudah menghasilkan cukup banyak tadi disebutkan, selain menghasilkan devisa, juga sebetulnya kita ekspor, profit faktor untuk ekspor, banyak memperkenalkan barang-barang Indonesia di Brunei. Nah karena itulah perlu diperhatikan nasib kawan-kawan kita ini, yang kira-kira jumlahnya sekitar 4 juta dan menghasilkan 2,5 billion US dollar, ya, kawan saya bilang bisa bikin LNG Plus 10 kilang, nah jumlah itu cukup besar. Makanya kami hanya usulkan kalau bisa Tenaga Kerja Indonesia ini tidak diurus oleh Departemen Tenaga Kerja, tetapi oleh semacam BUMN TKI. BUMN TKI ini, itu seperti yang sudah ada di Filipina dan juga di Pakistan, yang bisa menghasilkan, bisa mengumpulkan uang itu dan kemudian menginvestasikannya dengan baik. Begitu, nanti lebih lanjut saya tuliskan di sini, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Kalau boleh secara singkat bapak, apa yang ada dalam pikiran teman-teman di sini, mengapa lebih bagus BUMN ditindak, dibandingkan kalau diurus oleh pemerintah katakanlah Departemen Tenaga Kerja. Ini mungkin ide yang bagus tolong kira-kira apa latar belakang atau argumentasi yang mendasarinya?

Sdr. Agus Jamil, TKI
Selama ini, kita sudah kedatangan beberapa Menteri Tenaga Kerja, dan usulan dari kawan-kawanpun sudah sering disampaikan, sampai ke poin-poin yang banyak misalnya, fiskal yang sering bisa ditawar di Airport, sehingga kita yakin uang itu tidak pergi ke Keuangan, tetapi oleh individu-individu. Kemudian tentang masalah, pengiriman yang banyak masalahnya itu, jadi ada yang illegal dan lain-lain sebagainya. Kemudian perlakuan ketika kembali ke Indonesia, di Airport dibedakan dan lain sebagainya. Kita ingin seperti di Filiphina, kita itu pakai red carpet, Pak, bahwa orang Filipin yang bekerja di luar negeri kembali itu dihargai. Kita mendapatkan dari luar, kita untuk Indonesia. Dan tadi sudah saya katakan dua faktor jumlahnya 2,5 billion US dollar bisa bikin 10 LNG kilang, 30 Boeing cukup. Nah itu kemudian, sebaiknya dikelola secara profesional, tidak di dalam birokrasi pemerintahan.

Yang kedua, Pak, saya kebetulan menulis tentang Al-Quran dan …………, saya ingin mengusulkan banyak di sini bahwa Indonesia sebaiknya, maaf ini ya, saya melihat rencana pembangunan jangka panjang 25 tahun ke depan, Indonesia berdasarkan kepada dua, satu pertanian, dan dua pertambangan, saya kurang setuju, Pak. Sebaiknya kita punya kepada kelautan karena itulah keunggulan kompetisi kita, begitu, Pak. Jadi untuk selanjutnya saya serahkan saja buku saya kepada bapak.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih saya, Bapak saya persilahkan duduk.
Kalau lebih dari tujuh menit, jawaban saya yang dipotong waktu makan saya Pak.

Terima Kasih yang disampaikan semua itu penting, bagus dan saya senang mendengarnya, karena dengan demikian saya bisa mengetahui masalah-masalah yang fundamental, yang harapan kita tentunya kita ingin lebih baik lagi dalam mengelola semua hal, baik di tanah air maupun di luar tanah air.

Yang pertama, dari saudara Iwan Rahman tadi, sebenarnya mengapa banyak sekali terjadi apa ya, the leader outher katakanlah begitu, hijrahnya putra-putri terbaik bangsa atau tenaga kerja kita dari Indonesia ke luar negeri. Itu semua sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari krisis yang terjadi, karena banyak sekali perusahaan-perusahaan yang collaps waktu itu termasuk BUMN, termasuk industri strategi, termasuk PT DI dan lain-lain, maka ada semacam PHK, ada kehilangan jabatan, ada opportunity yang masih terbatas, akhirnya mereka keluar. Saya tidak bisa menyalahkan mengapa mereka keluar, karena kondisi seperti itu, dan negara yang sangat repot waktu itu memang tidak bisa mengatasi dengan serta-merta, karena besar dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi.

Sebenarnya keadaan sekarang makin baik dan Insya Allah bertambah baik, sebagai contoh tadi saya sudah bekunjung ke beberapa industri strategis di dalam negeri, dan saya juga sudah berkunjung ke perusahaan-perusahaan swasta di dalam negeri yang sebagian besar sudah bisa melakukan konsolidasi, tumbuh dan berkembang kembali.

Dengan demikian, bagi saudara-saudara kita yang ada di luar negeri opportunity is there, tempat anda di sana. Dengan demikian, silakan berkomunikasi lagi tentunya saya sangat bangga dan senang kalau banyak putra-putri terbaik bangsa kalau manakala tempat itu sudah ada, jabatan sudah ada, kesempatan untuk membangun investasi negara sudah tersedia, bisa segera begabung kembali. Saya berbicara ini bukan hanya di sini di negara-negara lain yang saya kunjungi, ketemu dengan putra-putri terbaik bangsa, termasuk orang-orang yang cerdas dan jenius dari Indonesia yang bekerja di Microsoft, di Amerika Serikat. Dan juga banyak yang bekerja di perusahaan-perusahaan asing yang ternama, yang ternyata mereka yang membanggakan saya ketika saya ajak dialog, apakah bersedia pada saatnya nanti kembali ke tanah air, mereka menyatakan, ”Pak Presiden, kami tentu bersedia pada saatnya apabila keadaan memungkinkan karena kami juga cinta pada tanah air”.

Ini saya serahkan kepada saudara-saudara sendiri, yang penting kami akan terus memperbaiki sesuatu akan terus memulihkan kondisi yang ada di tanah air. Dengan demikian pada saatnya semua itu membuka kembali peluang, untuk karier, jabatan, pengembangan industri dan ekonomi di negeri kita.

Kemudian, kalau ditanya mengapa terjadi seperti itu, apa strategi, kebijakan kita, kita bangun ekonomi kita kembali. Membangun ekonomi, berarti terus kita dorong lagi dengan investasi, dengan ekspor, sektor riil kita gerakkan kembali, industri, pertanian, jasa, kemudian pembangunan daerah pedesaan, pembangunan pertanian juga kita galakkan karena itu untuk mengurangi kemiskinan dan itu langsung memecahkan, meningkatkan kehidupan sehari-hari saudara-saudara kita yang sebagian besar memang yang tinggal di pedesaan dan sektor-sektor pertanian. Dengan demikian, strategi besar ini kita terus lakukan, tahun-tahun mendatang, mudah-mudahan sekali lagi, akan ada peluang lebih luas lagi untuk meningkatkan kembali ekonomi kita, termasuk bidang pekerjaan yang saudara sebutkan tadi.

Saudara Sumantri, saya baca sekilas idenya ada dua, bagus. Jadi bagaimana sebetulnya dalam hari-hari perayaan hari nasional kita, itu juga dilakukan sesuatu untuk mengenalkan Indonesia lebih luas lagi, berkomunikasi dengan masyarakat Brunei Darussalam lebih leluasa lagi, memberikan informasi lebih lengkap lagi. Dengan demikian, ada sejumlah opportunity, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan dengan semuanya itu.

Kemudian yang kedua, made in Indonesia, masalah labelling, saya sudah datang dibanyak tempat, kadang-kadang langsung dicap oleh negara setempat, batik misalnya, kerajinan dan lain-lain. Itu memang ada persoalan hukum, ada persoalan Undang-Undang, tetapi yang memang bisa dilabelkan, bisa dipatenkan, kita sedang menata semuanya. Dengan demikian misalkan, batik pun ada batik Malaysia, tapi mengapa tidak, seperti di Bukittinggi yang saya lihat ada bordir, ada tenun, kemudian banyak sekali. Itu bikin Bukittinggi Indonesia misalnya, jadi Palembang Indonesia, Surakarta Indonesia, sebab kalau batik itu juga diproduksi di Malaysia, dan itu juga ada dari dulunya, kita tidak bisa melarang Malaysia untuk menulis batik Malaysia, tapi kita harus batik Indonesia. Jadi banyak hal yang harus kita lakukan, saya juga dengar ada nasi goreng, nasi goreng bahasa Indonesia tetapi made in Thailand, ada kalanya seperti itu, Belanda.

Oleh karena itu, saya kira ini masukan yang baik. Saya akan teruskan lewat Menko Perekonomian tolong dibicarakan nanti ke Menteri Industri dan Menteri Perdagangan, Menteri Hukum dan HAM, bagaimana kita juga mengamankan bukan hanya untuk kebanggaan tetapi juga untuk nilai ekonominya dan lain-lain. Ini akan saya baca lagi nanti, saya kira banyak ide-ide yang bagus. Terima kasih, sampaikan salam saya, kepada adik-adik yang sudah ikut menyumbangkan dan proposal yang bagus seperti itu.

Kemudian Saudara Rusli tadi dari Palembang. Terima kasih sudah ikut membangun dunia kesehatan di Brunei Darussalam. Untuk diketahui kami menggalakkan kembali, meningkatkan kembali pelayanan kesehatan di seluruh tanah air. Jaman dulu, jaman pemerintahan Presiden Soeharto, meskipun kita melakukan reformasi, tapi kan tidak semua yang baik-baik harus kita tinggalkan, bagi saya, yang baik-baik, ketika Presiden Soekarno memimpin, Presiden Soeharto memimpin, Gusdur memimpin, Bu Mega memimpin harus kita lanjutkan. Itu bangsa yang arif, bangsa yang matang, bangsa yang dewasa. Yang kurang-kurang karena jaman berubah, jadi yang kurang-kurang karena zaman berubah, zaman berkembang.

……………, Human Resourses, oleh karena itu terima kasih sumbangannya, dan memang bidang kelautan dan perikanan bidang yang sangat potensial untuk kita kembangkan, tanpa harus merusak lingkungan hidup yang harus sama-sama kita pelihara, itu masalah buku.

Kemudian masalah pengurusan, saudara-saudara kami pemerintah dan saya sendiri sering sidak ya, ke Cengkareng, ke Ngurah Rai. Saya datang menjemput anak saya kerja dari sana, tiba-tiba pulang, waktu dari Malaysia, baik itu di Nunukan, di Dumai, di Tanjung Pinang, saya jemput sendiri. Saya menjemput saudara kita yang pulang dari Timur Tengah, dari Qatar, Arab Emirat, Saudi Arabiah, saya berdialog dengan mereka satu per satu, sebagai contoh dari 50 orang yang datang waktu itu, 47 dipelakukan dengan baik oleh mereka-mereka yang dipekerjakan di Timur Tengah, tetapi tiga orang merasa diperlakukan tidak adil, ada hak yang enggak diberikan, ada masalah hukum. Saya minta waktu itu Menteri Hukum dan HAM, kita menindaklanjutinya, apabila benar warga negara kita, harus kita bela dan kita perjuangkan hak-haknya. Tapi kalau salah, tentu tidak boleh berbuat kesalahan, artinya apa. Kami ingin juga memberikan atensi, memberikan pelayanan yang makin baik dan membebaskan dari segala hal yang tidak terpuji.

Kita sudah melakukan tindakan keras pada jajaran Direktorat Jendral Imigrasi, pungutan-pungutan liar, pungutan fiskal misalnya, banyak sekali bukan hanya fiskal. Dan saya kira saudara-saudara mengerti kita lakukan penataan menyeluruh di direktorat jendral itu, karena saya menemukan beberapa kekurangan, beberapa pelanggaran, termasuk di Malaysia yang saya lihat dan ditempat-tampat yang lain. Ini Departemen Hukum dan HAM, Departemen Luar Negeri dan aparat terkait melakukan pembersihan. Kalau masih ada perilaku mereka yang tidak benar memungut saudara-saudara kita, mempersulit, menarik hal-hal yang tidak perlu ditarik, laporkan segera kepada pemerintah, kalau perlu SMS atau tembusan kepada kantor saya, karena ini merupakan langkah kita untuk membersihkan semuanya. Kasihan tenaga kerja kita ini pahlawan, kita belum mampu menyediakan lapangan kerja, harusnya kita berikan pelayanan yang terbaik. Sejalan dengan langkah-langkah itu, tolong berikan masukan kepada saya, baik katakan baik, harus jujur kita, tidak baik katakan tidak baik.

Yang kedua masalah pengurusan, masalah birokrasi. Salah satu yang kita lakukan adalah building good governance, tata pemerintahan yang baik, yang efisien, jangan bertele-tele, jangan disimpan dari satu meja ke meja yang lain, satu ruang ke ruang yang lain, akhirnya lama, akhirnya boros, akhirnya banyak uang keluar. Nah kalau investor datang ke Indonesia dipersulit seperti itu, siapa yang mau datang, lebih baik datang ke negara yang lain. Ini juga langkah yang kita lakukan sekarang untuk membikin birokrasi efisien, bersih, mempercepat bukan memperlambat dan ini juga berlaku di daerah-daerah, di seluruh tanah air, itu kita lakukan semuanya.

Demikian juga misalkan penertiban agen-agen tenaga kerja, saya lihat ada yang gelap, saya lihat ada yang kongkalingkong dengan penjahat, baik itu dengan Indonesia, maupun di negara dimana suadara-saudara kita bekerja. Ini pun juga kita lakukan. Ada plus dan minusnya kalau kita bicara dengan BUMN atau pemerintah, karena ada kadang-kadang permasalahan tenaga kerja yang ikut berkaitan dengan pemerintah negara setempat, masalah hukumnya, masalah haknya, masalah bagaimana kalau dikurangi oleh yang memperkerjakan, apakah di Brunei, di Malaysia dan lain-lain. Itu kalau pemerintahnya bekerja G to G masalah itu akan cepat bisa diselesaikan. Itu kalau pemerintah. Barangkali kalau BUMN mungkin tidak secepat itu dengan asumsi, pemerataan kita akan responsif, tetapi dipihak lain barangkai efisiensi, barangkali ada hal-hal yang lebih bagus dilakukan oleh BUMN bisa saja seperti itu.

Saya tidak bisa memberikan jawaban serta ide yang bagus. Akan kita telaah nanti di tanah air secara jernih. Dengan dilihat, bagi saya apa yang terbaik bagi tenaga kerja kita, apa yang paling bersih, yang paling tepat, yang efisien, itu yang kita pilih. Dengan demikian, sekali lagi, setiap policy, setiap Undang-Undang, setiap strukur itu justru mendatangkan kebaikan bukan mendatangkan sesuatu yang lebih buruk lagi.

Terima kasih saudara Agus Jamil. Dan dengan demikian saya kira, pembangunan KBRI terus terang, Pak Menlu pun tidak bisa menjawab sekarang. Saudara-saudara banyak yang akan kita lakukan, percayalah. Tetapi kita harus menghitung keuangan negara kita, kita harus ikut untuk mendapatkan nasional kita sekarang ini, kita harus hitung, kita perhatikan mana prioritasnya. Oleh karena itu, silakan Pak Menlu dipelajari, ya, sarankan kepada saya nanti, seperti apa, kemudian kita hitung, ada Menteri Keuangan, ada Menteri Perekonomian, dilihatlah kemampuan dan batas kemampuan. Tapi ide yang baik jangan dipatahkan, jangan dimasukkan ke laci, cuma implementasinya dilakukan, apabila memang kita sudah memiliki kemampuan untuk itu.

Terima kasih saudara-saudara sekali lagi, terima kasih penghargaan saya, mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi di lain kesempatan nanti. Dan Insya Allah, tentu saja saya juga ingin berkunjung kembali ke Brunei Darussalam, bertemu dengan saudara-saudara sekalian.
Selamat berjuang, selamat bertugas, junjung dan bawa nama baik bangsa kita.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Moderator
Terima kasih Bapak Presiden Republik Indonesia, atas nama seluruh keluarga besar dari masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam. Dan dapat kami laporkan, Pak sesuai dengan instruksi Pak Menlu, kita telah membeli tanah di dekat sini yang nantinya akan didirikan gedung KBRI kita, Pak. Jadi sana sudah ada, tinggal kita, tinggal bangun saja. Mohon dananya dari Menteri Keuangan dan Menteri ….. Terima Kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Sebelum saya tutup, semua saya minta semua diurus yang benar, terbuka sesuai Undang-Undang dan peraturan yang berlaku. Sekarang negara kita ini sedang mudah sekali, untuk beredarnya hal-hal yang seperti-seperti itu, wah dia ada KKN, wah dia ada ketebelece, dan lain-lain. Saya sampaikan, kami ingin pemerintahan ini betul-betul bersih, transparan, responsif dan akuntabel. Oleh karena itu, mengingat masih ada saling syak-wasangka, curiga- mencurigai, jangan-jangan ada KKN, jangan-jangan ada kongkalingkong dan lain-lain, buka semua secara transparan serahkan semua kepada publik.

Dan bagi saudara-saudara kita di seluruh tanah air juga, marilah kita melihat masalah secara jernih. Kalau ada hal-hal yang dianggap tidak benar ada proses, ada mekanisme untuk mengetahui benar atau tidak benar, tapi jangan terlalu cepat menghakimi seseorang atau pihak, bahwa itu melakukan kejahatan, itu melakukan KKN dan lain-lain. Oleh karena itu, mari ke depan kita lebih cermat lagi, lebih waspada lagi, agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan teknis, yang akhirnya meskipun tidak ada apa katakanlah, tidak ada KKN tetapi orang lantas melihatnya pasti ada KKN dan lain-lainnya. Ini bagus jadi, jadilah model yang bagus untuk bagaiman kita mengelola hal-hal yang seperti itu.
Terima kasih.

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan

2 Responses

  1. we are furniture design product we would like have some information about buyer interior furniture in Brunei Darusalam or bussiness partner thank from jakarta indonesia

  2. kalau ada teman di brunei yang membutuhkan design untuk rumah atau apartemen, hotel kami sangat expert dalam hal ini terutama model rumah minimalis terima kasih salam dari PT. IMPELA INTERINDO pabrik kami di jakarta indonesia bisa hubungi kami di no. Hp.08128868079

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: