Negara Ber-Income Tertinggi Berorientasi Laut

Jawa Pos Online. Agus S. Djamil, Pakar Indonesia yang Jadi Staf Ahli di Kantor PM di Brunei.

Sebenarnya Agus S. Djamil sudah nyaman sebagai staf ahli unit petroleum kantor perdana menteri di negara mungil kaya minyak, Kerajaan Brunei Darussalam. Namun, sarjana geofísika dari UGM ini “gemas” melihat bangsa Indonesia tak kunjung menghadapkan wajah ke laut. Master of science bidang exploration and development geophysics dari Universitas Stanford, AS, itu mencoba mengampanyekan betapa ketangguhan bangsa dan kemakmuran bisa dieksplorasi dari laut.

Sosok kelahiran Banjarnegara (1962) yang pernah bekerja di Caltex (1988-1998) itu menelaah dan mengkaji spirit kelautan dari sisi religius. Dia yakin, modal religiusitas akan bisa menggugah semangat kelautan. Mengingat, bangsa Indonesia adalah negara muslim terbesar. Setelah pemikirannya bergelut selama 20 tahun, muncul “keberanian” dia menulis buku tebal, Al Quran dan Lautan. “Buku ini langka,” komentar cendekiawan Prof Dr Quraish Shihab. Dan, kini sudah cetakan kedua.

Cucu ulama tafsir KRH Hadjid itu berobsesi, bangsa Indonesia mengubah persepsi sempit bahwa laut identik dengan ikan. Sebab, laut adalah modal besar untuk kekuatan bangsa. Dia mengingatkan, betapa Indonesia hanya “menonton” lalu lintas 50.000 kapal lewat Selat Malaka setiap tahun. Sedangkan sebagian besar rezekinya yang menangguk Singapura dan Malaysia. Bahkan, Filipina mencoba bersaing dengan membuat pelabuhan untuk “menggoda” kapal-kapal itu singgah di negerinya.

Dalam kunjungan ke Jawa Pos kemarin sore, Agus membeberkan pandangannya. Sosok yang sedang berkelana ke kampus-kampus di Jawa untuk mengampanyekan pandangannya itu didampingi Sekjen Departemen Kelautan dan Perikanan Prof Ir Widi Agoes Pratikto MSc PhD, ilmuwan ITS Daniel M. Rosyid, dan tokoh Surabaya Sirikit Syah. Paparan itu dilengkapi dengan wawancara panjang wartawan Jawa Pos. Berikut nukilannya.
Bagaimana mulanya Anda tertarik dengan laut?

Saya sudah tertarik dengan laut sejak saya masih mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM). Mulanya saya tertarik dengan satu ayat dalam kitab suci yang bunyinya: Dan laut yang di dalam tanahnya ada api (Ath Thur [52:6]). Saya berpikir, mengapa ada api di situ? Apa itu benar api atau simbol? Dari situlah, saya mulai banyak mencari informasi, banyak membaca.

Sempat pula saya menulis di Panji Masyarakat, majalah asuhan Buya Hamka, soal laut pada 1986. Saya juga menulis di Kedaulatan Rakyat dan pers mahasiswa. Setiap seminar yang ada hubungan dengan laut, saya coba kirimkan tulisan saya.

Bidang yang Anda pelajari geofisika, masih terkaitkah?

Setelah lulus kuliah, saya bekerja di Caltex, Riau, sejak 1988-1994, sebelum saya belajar kembali di Amerika Serikat (AS) dan magang di Chevron. Di Caltex, saya ditempatkan berpindah-pindah. Namun, akhirnya saya ditempatkan di Nias Exploration. (Selama bekerja di Caltex, Agus mendapat Management Award dan World Class Award serta sebagai EDAC grantee atau penerima beasiswa).

Saya memiliki banyak kesempatan untuk menggali kembali potensi laut. Saya sempat tinggal di rig, saya ke laut. Maka, data saya semakin banyak dan berkembang.

Tapi, geofisika sebetulnya juga banyak belajar mengenai laut. Masalah laut itu sangat berkaitan dengan geologi.

Berapa lama proses penulisan buku Anda?

Butuh waktu 20 tahun bagi saya untuk menulis buku itu. Gagasan sudah ada sejak dulu. Praktis menulisnya hanya sekitar satu bulan. Tentunya, data yang saya miliki sudah banyak. Buku saya tebal. Tapi, saya yakin, anak SMA pun bisa baca.

Apa pesan utama Anda dalam Al Quran dan Lautan?

Saya ingin membangkitkan orang Islam Indonesia supaya mengikuti petunjuk Alquran, memanfaatkan laut. Katanya, kita ini banyak masalah. Kemiskinan, pengangguran, dan lain-lain. Apa solusinya?

Kita tinggal di kepulauan terbesar di dunia. Pulau-pulau kita letaknya strategis, penduduk Islam terbesar di dunia, sedangkan Alquran sendiri lebih banyak membahas lautan daripada daratan (42 dibanding 13 ayat). Padahal, Alquran diturunkan di padang pasir. Di akhir teks pun mengatakan: Semoga kamu memikirkannya.

Ada karunia yang apabila kita aplikasikan kita akan mendapatkan sesuatu. Negara yang sukses income per kapita tertinggi di dunia bukan Arab Saudi, tapi Norwegia. Negara yang kelautannya berkembang.

Apa saja yang dapat dieksplorasi dari laut?

Banyak hal. Mulai ekonomi, fisik-biologis, peradaban, hingga geopolitik. Indonesia itu setiap tahun dilewati 50 ribu kapal. Penghasilan minyak kita hanya satu juta barel per hari. Tapi, berapa yang lewat di laut kita? Sepuluh juta barel per hari. Sepertiga minyak dunia lewat Selat Malaka. Jadi, kelancaran pelayaran menentukan ekonomi dunia.

Air laut jangan dipandang sebagai kendala, tapi solusi. Sekarang ini, misalnya, zaman internet, mau beli buku bukan ke toko lagi, tapi ke amazon.com. Apa yang dipakai untuk mengirim begitu jauhnya? Pesawat? (Agus menggeleng). Kapal. Kita ini seperti mempunyai kavling di Tunjungan Plaza (salah satu mal terbesar di Surabaya, Red). Tapi, apa yang kita bikin? Mal? Hotel? Kita malah jadi (pedagang) asongan. Yang menggarap malah Singapura dan Malaysia.

Mengapa bisa demikian?

Mindset kita masih mindset darat. PT PAL tidak didukung, IPTN dibubarkan. Padahal, kita perlu yang semacam itu. Pengetahuan tentang kelautan itu penting bagi orang Indonesia yang tinggal di dekat laut. Bahkan, 92 persen masyarakat kita kan tinggal di coastal area.

Lihatlah negara-negara yang maju, pasti memiliki laut. Negara-negara yang tak memiliki laut, meskipun mempunyai minyak, akan kesulitan (seperti di daerah Kaspia). Mereka tak bisa jual. Tapi, dengan adanya laut, mengangkat benda-benda berat cepat sekali. Mindset inilah yang harus dikembangkan. Orang kita lebih suka membuat jembatan daripada pelabuhan. Laut sebetulnya menjadi solusi yang ekonomis, efisien, dan ramah lingkungan.

Sudah Anda sebarkan ke mana saja semangat itu?

Buku saya dirilis satu hari persis sebelum peristiwa tsunami, 25 Desember 2004. Karena itu, banyak orang yang bertanya-tanya. Setelah itu, saya jadi banyak berkeliling. Saya diminta beberapa kali ceramah ke universitas atau masjid. Misalnya, ITB, IPB, ITS, dan Unibraw. Saya juga sempat ke perusahaan-perusaha an.

Buku saya sudah dua kali cetak. Sekali cetak sekitar tiga ribu buku. Tapi, yang kedua belum habis. Saya memiliki rencana untuk menerjemahkan buku saya ke dalam bahasa Inggris. Saya baru punya hak untuk menerjemahkannya Desember tahun ini. Insya Allah, dilaksanakan karena banyak teman di luar yang minta.

Anda mencoba masuk ke dunia pendidikan, bakal mudahkah upaya itu?

Mengubah mindset itu tidak gampang. Mindset-nya mungkin harus agama. Ini yang bilang Alquran, bukan presiden, bukan profesor. Kitab suci yang bilang bahwa dari lautan kita bisa mendapatkan makanan, sesuatu untuk dipakai, transportasi yang memudahkan, serta keuntungan yang banyak.

Alquran yang bilang, seandainya ada hukum laut bisa pasti peraturannya. Misalnya, jatuhnya dosa. Seperti Alquran yang memerintahkan kita untuk salat. Kalau tidak salat, dosa. Apakah kita (mungkin) masuk ke taraf dosa (dalam menyikapi laut)?(anita rachman)

One Response

  1. Assalamu ‘alaikum Pak Agus, salam kenal

    Saya Prabowo, ingn menanyakan bagaimana prosedur (proses) untuk mencari kerja di Brunei.

    Atas informasinya, saya ucapkan terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: